Cerita si Anak Kedua
Saat ini, isi kepalaku dipenuhi dengan perbedaan aku dan saudara kandungku yang membuat aku harus melihat diriku kembali. Menatap awan yang bebas bergerak ringan tertiup angin, mendadak membuat hatiku melemah dan seketika rasa khawatir hinggap didiriku. Bagaimana hidupku, bagaimana aku 5 sampai 10 tahun lagi, dan yang paling berat adalah "apa yang mau aku berikan pada keluargaku"
Ini bukan cerita tentang ke-irian hatiku terhadap saudaraku sendiri. Namun, kekhawatiranku terhadap diriku sendiri. Terlebih, ada suatu perbedaan yang aku rasakan akhir-akhir ini. Dalam ingatanku, rasanya sudah 3-4 kali saudaraku memberikan kabar atas pencapaiannya kepada kedua orang tua kami. Tidak jarang juga apa yang ia capai adalah hal yang dulu pernah kubayangkan dan ingin kucapai. Senang sekaligus sedih kurasakan saat mengetahui aku tak memberi kabar pencapaian apapun kepada mereka. Mungkin ada, namun setelah aku pikir-pikir itu seperti bukan apa - apa.
Aku menyadari, aku dan saudara kandungku berbeda. Dia sangat ahli dalam ilmu yang sedang ia geluti. Ia pintar sejak kecil, dan itu menjadi sebuah pengingat diriku kala itu untuk bisa menjadi seperti kakakku. Tapi semakin aku dewasa, aku sadar aku punya duniaku sendiri, dunia yang berbeda dengan saudaraku. Entah dibanding saudaraku, aku yang tidak pernah dapat rangking. Dibanding saudaraku, aku yang paling haha hihi. Dibanding saudaraku, aku yang belum bisa cari uang sendiri.
Aku percaya kesempatan setiap orang berbeda. Aku percaya, semua punya waktunya masing-masing. Mungkin saat ini, "timeline" saudaraku lebih dulu dibanding diriku. Tapi tetap tidak bisa kupungkiri, rasa khawatir ini masih terus hinggap dihatiku.
Aku dan saudaraku tentu memiliki harapan yang sama untuk kedua orang tua kami. Kami sama-sama ingin membahagiakan mereka. Tapi, ayah ibu.. aku memiliki cara yang berbeda untuk mewujudkan harapan itu. Mungkin sekarang, mereka belum melihat apapun dari diriku. Tapi percayalah ayah ibu, aku sedang berusaha dengan caraku sendiri.
Komentar
Posting Komentar